Sebab-Sebab Tidak Diterimanya Amal


Oleh : Ja’far Shodiq (Alumni Ponpes Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung)

Setiap muslim pasti berharap agar amal-amal yang telah mereka kerjakan akan diterima oleh Allah SWT. Namun ada amalan-amalan yang tidak diterima oleh Allah SWT, atau amalan-amalan yang sebenarnya diterima, akan tetapi karena kita melakukan hal tertentu, menjadikan amalan itu tidak diterima di sisi-Nya.
Diantara sebab-sebab amal ibadah yang kita kerjakan tidak diterima oleh Allah SWT adalah :


1. Syirik
Secara umum syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu. Dalam definisi lain, syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Alah pada perkara yang merupakan hak khusus bagi Allah, seperti hak diibadahi, mencipta, memberi manfaat dan madharat. Sedangkan pelakunya disebut musyrik.
Dalam agama Islam syirik merupakan kezaliman yang besar. Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13)
Orang yang melakukan kesyirikan amalnya akan terhapus. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :
Jika kamu berbuat syirik, niscaya  akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Juga firman-Nya :
“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

2. Kufur terhadap ayat-ayat Allah SWT
Ayat-ayat Allah adalah firman yang pasti kebenarannya, serta tidak ada keraguan di dalamnya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 2)
Sehingga hanya orang yang tidak beriman sajalah yang mengkufuri dan mengingkari ayat-ayat yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya. Orang seperti itu mendapatkan ancaman berupa hilangnya amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.
Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 103 – 106 :
“Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.”

3. Beramal, akan tetapi tidak sesuai dengan petunjuk Nabi SAW
Rasulullah diutus untuk menjadi teladan bagi umat manusia. Baik teladan dalam berakhlak maupun teladan dalam beribadah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan Allah telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara beribadah kepada Allah secara benar.
Oleh karena itu beribadah haruslah menurut petunjuk Rasulullah SAW, dan umatnya dilarang untuk mengada-adakan hal-hal yang baru dalam ibadah (mahdhah).
Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru pada urusan agama kami, yang tidak ada perintahnya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
Dan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang melakukan amal ibadah yang tidak ada perintahnya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim).
Semoga semua amal ibadah kita adalah amal yang senantiasa diterima oleh Allah SWT. Aamiin.
Wallahu a’lam bishshawab.

2 komentar: